Senin, 15 April 2013

Terapi Analisis Transaksional

Analisis transaksional atau disingkat dengan AT adalah suatu pendekatan psikoteraputik yang sanagt dapat diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial klinis ( Cooper dan Turner, 1996). Teori analisis transaksional merupakan karya besar Eric Berne (1964), yang ditulisnya dalam buku Games People Play. Berne adalah seorang ahli ilmu jiwa terkenal dari kelompok Humanisme. Teori analisis transaksional merupakan teori terapi yang sangat populer dan digunakan dalam konsultasi pada hampir semua bidang ilmu-ilmu perilaku. Teori analisis transaksional telah menjadi salah satu teori komunikasi antarpribadi yang mendasar.

Kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Dalam komunikasi antarpribadi pun dikenal transaksi. Yang dipertukarkan adalah pesan-pesan baik verbal maupun nonverbal. Analisis transaksional sebenarnya ber­tujuan untuk mengkaji secara mendalam proses transaksi (siapa-­siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang dipertukarkan).
AT merupakan suatu pendekatan untuk mensistematisasi, menganalisis, dan mengubah saling mempengaruhi di antara manusia, yang menekankan interaksi keduanya ( antara diri dan manusia lain dan kesadaran internal.
Tujuan berne ialah mensistensiskan gagasannya dengan menggunakan istilah yang dapat dipahami sehingga klien dapat berpartisipasi secara aktif dalam mengorganisasikan arah penanganannya sendiri. Tinjauan teoritik tentang AT dikaitkan dengan suatu pendekatan yang mengaitkan internal (intrapsikis) dengan interpersonal dan relasional. Makna AT adalah untuk memperkaya kemampuan untuk menhhadapi dan mengatur situasi yang paling dalam dan interaksi kehidupan nyata.
AT dibagi kedalam kategori-kategori sebagai berikut:
*                  Keadaan ego
Adalah realitas ego yang benar benar dialami oleh seseorang secara mental dan fisik pada waktu tertentu . setiap keadaan ego memperlihatkan seperangkat pengalaman pengalaman internal yang khas dan juga perilaku yang dapat diamati.
-             Orangtua à keadaan ego ini menggabungkan pesan pesan dari tokoh otoritas dini yang secara emosional signifikan. Ini meliputi suatu sistem perasaan perasaan, sikap-sikap, dan perilaku-perilaku yang menyerupai seorang tokoh orangtua. Keadaan ego ini berisi elemen elemen yang mengorganisasikan, memelihar, dan melindungi serta penting dan juga terdiri atas nilai, moral dan etika kita.
- orang dewasa à seperangkat pola pola perasaan, sikap dan perilaku otonom yang disesuaikan dengan realitas masa kini.  Keadaan ego ini mengumpulkan dan memproses data, mengevalusasi kemungkinan dan membuat prakiraan, semuanya dalam rangka mengambil keputusan. Ego ini yang paling luwes karena ia berinteraksi paling banyak dengan realitas si sini dan masa kini dan yang palinng sedikit dipengaruhi oleh internalisasi yang kuno.
-        Anak à seperangkat poal perasaan, sikap dan perilaku yang merupakan seorang tokoh masa lalu yang berasal dari masa anak-ank seseorang. Keadaan ego ini berisisi suatu intuisi seseorang dan imajinasi.
*                  Transaksi
Suatu transakasi terdiri atas satu stimulus tunggal dan satu respon tunggal, verbal dan non-verbal, merupakan unit dari tindakan sosial.
Karena keadaan ego merupakan struktur dasar kepribadian, manusi berinteraksi satu sama lain dari satu atau lebih keadaan ego tersebut. Berne membedakan 3 type transaksi : timbal bailik, silang dan tersembunyi.
*                 Permainan dan drama segitiga
Menurut Harris (dalam correy, 1982) bahwa permainan (games) merupakan aspek yang penting dalam mengetahui transaksi yang sebenarnya dengan orang lain.di dalam hal ini perlu diobservasi dan diketahui bgaimana permainan dimainkan dan belaian apa yang diterima, bagaiman keadaan permainan itu, apakah ada jarak dan apa diiringi dengan keakraban.
Analisis Transaksional memandang permainan-permainan sebagai penukaran belaian-belaian yg mengakibatkan berlarutnya-larutnya perasaan-perasaan tidak enak. Permainan-permainan boleh jadi memperlihatkan keakraban. Akan tetapi, orang-orang yang terlibat dalam transaksi-transaksi memainkan permainan menciptakan jarak di antara mereka sendiri dengan mengimpersonalkan pasangannya. Transaksi itu setidaknya melibatkan dua orang yang memainkan permainan. Transaksi permainan akan batal jika salah seorang menjadi sadar bahwa dirinya berada dalam permainan dan kemudian memutusakan untuk tidak lagi memainkannya.
Drama segitigaà bahwa dalam pertukaran-pertukarann di antara manusi dalam suatu permainan., sebagaimana dalam drama kehidupan sehari-hari, para pemain sering kali memainkan satu dari tiga peran yang tidak asli : penyiksa, penyelamat atau korban.
*                  Posisi Hidup
Suatu keputusan yang dibuat dalam rangka merespon bagaimana reaksi figur orang tua terhadap reaksi awal anak perasaan dan kebutuhannya serta merupakan komponen dasar dari naskah hidup dari individu. Ada 4dasar posisi hidup:
1.              I’m Ok –You’re Ok
Individu mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri dan percaya orang lain.
2.              I’m Ok- You’re not Ok
Individu membutuhkan orang lain akan tetapi tidak ada yang dianggap cocok, individu merasa memnpunyai hak untuk mempergunakan orang lain untuk mencapai tujuannya.
3.              I’m Not Ok- You’re Ok
Individu merasa tidak terpenuhi kebutuhanya dan merasa bersalah.
4.              I’m Not Ok-You’re Not Ok
Individu merasa dirinya tidak baik dan orang lain pun juga tidak baik, karena tidak ada sumber belaian yang positif.
Analisis lifescript individu didasarkan pada drama-nya keluarga asli. Sebagai hasil mengeksplorasi apa yang mereka pelajari berdasarkan lifescript mereka, klien belajar tentang perintah-perintah mereka diterima secara tidak kritis sebagai anak-anak, keputusan mereka dibuat sebagai tanggapan terhadap pesan ini, dan permainan dan raket sekarang mereka terapkan untuk menjaga keputusan awal ini hidup. Dengan menjadi bagian dari proses penemuan diri, klien meningkatkan kesempatan untuk datang ke pemahaman yang lebih dalam belum selesai mereka sendiri bisnis psikologis, dan di samping itu, mereka memperoleh kemampuan untuk mengambil beberapa langkah-langkah awal untuk keluar dari pola-pola merugikan diri sendiri.
*                  batas Status Ego
setiap individu mempunyai ketiga ego tersebut( anak,dewasa, orang tua) bersifat permiabel, sehinggan dimungkinkan terhambatnya aliran dari status ego yang satu ke ego yang lain dalam menaggapi rangsang dari luar.akan tetapi ada batas antara dinding status ego tersebut sangat kuat, sehingga individu tidak mampu melakukan perpindahan ke status ego yang lain. 
Tujuan dalam Pendekatan Analisis Transaksional
Menurut corey, melihat dari tujuan dasar dari analisis transaksional adalah membantu klien dalam membuat putusan-putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekrang dan arah hidupnya. Sasaranya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatsai oleh putusan dini mengenai posisi hidupnya. Menurut Lutfi Fauzan, Tujuan konseling analisis transaksional dapat dibagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus.
1.      Tujuan Umum Konseling Analisis Transaksional, ialah membantu individu mencapai otonomi. Individu dikatakan mencapai otonomi bilamana ia memliki Kesadaran, Spontanitas, Keakraban.
2.      4 Tujuan Khusus Konseling Analisis Transaksional
A.    Konselor membantu klien membebankan Status Ego Dewasanya dari kontaminasi dan pengaruh negatif Status Ego Anak dan Status Ego Orang tua.
B.     Konselor membantu klian menetapkan kebebasan untuk membuat pilihan-pilihan terlepas dari perintah-perintah orang tua.
C.     Konselor membantu klien untuk menggunakan semua status egonya secara tepat.
D.    Konselor membantu klien  untuk mengubah keputusan-keputusan yang mengarah pada posisi kehidupan “orang kalah”.

Model Penampilan Analisis Transaksional
Agar konselor dapat membantu klien mencapai perubahan tingkah laku maka konselor analisis transaksional harus memiliki keterampilan:
1.      Menganalisis status ego, transaksi, permainan, dan rencana hidup.
2.      Berinteraksi dengan cara terbuka, hangat, dan tulus
3.      Mendengarkan dari mengamati komunikasi klien baik verbal maupun nonverbal.
4.      Mengenai status ego yang digunakan klien pada suatu saat.
5.      Menguasai beberapa pengetahuan tentang prosedur kelompok
Model Analisis dan Diagnosis Masalah Analisis Transaksional
Tahap analisis struktural
Merupakan tahap pertama dari proses konseling konselor membantu klien meneliti struktur status egonya(orang tua, dewasa, dan anak) didalam analisis transaksional klien belajar bagaimana mengidentifikasi status egonya. Agar dapat menetapkan keunggulan status ego yang teruji dalam kenyataan yang bebas dari kontaminasi oleh hal dari masa lalu, seperti teknik kursi kosong, family modelling.
Tahap analisis transaksional
Tahap kedua dimana konselor membantu klien untuk transaksi dengan lingkungannya. Ada tiga tipe transaksi yaitu; komplementer, menyilang, dan terselubung. Seperti, metode belajar, role playing atau teknik psikodrama
Tahap analisis permainan
Konselor dituntut untuk memiliki kemampuan menentukan hasil yang diterima klien dari permainan. bahwa permainan (games) merupakan aspek yang penting dalam mengetahui transaksi yang sebenarnya dengan orang lain.di dalam hal ini perlu diobservasi dan diketahui bgaimana permainan dimainkan dan belaian apa yang diterima, bagaiman keadaan permainan itu, apakah ada jarak dan apa diiringi dengan keakraban. Permainan-permainan boleh jadi memperlihatkan keakraban yang akan terjalin.
Tahap analisis rencana
Suatu Pemahaman lengkap tentang hasil akhir dan gaya hidup klien akan melibatkan analisis rencana kehidupan yang merupakan tahap keempat dari proses konseling analisis transaksional.
Kelemahan dan Kelebihan Dalam Pendekatan Analisis Transaksional
Kelebihan Menurut Gerald Corey :
1.      Sangat berguna dan para konselor dapat dengan mudah menggunakannya.
2.      Menantang konseli untuk lebih sadar akan keputusan awal mereka.
3.      Integrasi antara konsep dan praktek analisis transaksional dengan konsep tertentu dari terapi gestalt amat berguna karena konselor bebas menggunakan prosedur dari pendekatan lain. Bab ini menyoroti perluasan pendekatan Berne oleh Mary dan almarhum Robert Goulding (1979), pemimpin dari sekolah redecisional TA. The Gouldings berbeda dari pendekatan Bernian klasik dalam beberapa cara. Mereka telah digabungkan TA dengan prinsip-prinsip dan teknik-teknik terapi Gestalt, terapi keluarga, psikodrama, dan terapi perilaku. Pendekatan yang redecisional pengalaman anggota kelompok membantu kebuntuan mereka, atau titik di mana mereka merasa terjebak. Mereka menghidupkan kembali konteks di mana mereka membuat keputusan sebelumnya, beberapa di antaranya tidak fungsional, dan mereka membuat keputusan baru yang fungsional. Redecisional terapi ini bertujuan untuk membantu orang menantang diri mereka untuk menemukan cara-cara di mana mereka menganggap diri mereka dalam peran dan victimlike untuk memimpin hidup mereka dengan memutuskan untuk diri mereka sendiri bagaimana mereka akan berubah.
4.      Memberikan sumbangan pada konseling multikultural karena konseling diawali dengan larangan mengaitkan permasalahan pribadi dengan permasalahan keluarga dan larangan mementingkan diri sendiri

Kelemahan dari terapi Analisis Transaksional
1.      Banyak Terminologi atau istilah yang digunakan dalam analisis transaksional cukup membingungkan.
2.      Penekanan Analisis Transaksional pada struktur merupakan aspek yang meresahkan.
3.      Konsep serta prosedurnya dipandang dari perspektif behavioral, tidak dapat di uji keilmiahannya
4.      Konseli bisa mengenali semua benda tetapi mungkin tidak merasakan dan menghayati aspek diri mereka sendiri.

  Aplikasi atau Penerapan dalam Pendekatan Analisis Transaksional
1.      Teknik-teknik pendekatan ini bisa diterapkan pada hubungan orang tua-anak, belajar dikelas, pada konseling dan terapi individual serta kelompok dan pada konseling perkawinan.
2.      Dalam kegiatan kelompok orang- orang bisa dialami dalam suatu lingkungan yang alamiah, yang ditandai keterlibatan dengan orang-orang lain. Interaksi dengan kelompok lain memberikan mereka kesempatan yang amat luas untuk mempraktekan tugas dan memenuhi kontrak.
3.      Memecahkan suatu permasalahan melalui kegiatan kelompok akan membawa para anggota menghayati suatu titik dimana mereka membuat keputusan lebih awal yang beberapa diantaranya sudah tidak fungsional lagi dan mereka akan membuat keputusan baru yang sesuai. Sumbangan utamanya adalah perhatiaanya transaksi-transaksi berkenaan dengan fungsi perwakilan-perwakilan ego.

Sumber
Corey. Gerald. (2005). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Rafika Aditama




Senin, 01 April 2013

Client Centered Therapy

                                         TERAPI CLIENT – CENTERED

Sesuai dengan namanya yaitu dari nama ‘Client centered’ yang berarti berfokus pada klien. Teknik ini pada awanya dipakai oleh Carl Rogers pada tahun 1942. Teknik ini dipakai secara terbatas pada terapi mahasiswa dan orang orang dewasa muda lain yang mengalami masalah masalah penyesuaian diri yang sederhana. Carl rogers berpendapat bahwa orang orang yang memiliki kecenderungan dasar yang mendorong mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Dalam pandangan Rogers, gangguan-gangguan psikologis pada umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju kepada aktualisasi diri. Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang yang memilih dan bertindak sesuai dengan nilai nilai kebutuhan pribadinya.
Pendekatan humanistik Rogers terhadap terapi person centered theraphy membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik. Terapis tidak boleh memaksakan tujuan atau nilai yang dimilikinya kepada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan perasaan yang diungkapkan pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan perasaanya yang lebih dalam dan bagian bagian dari dirinya yang tidak diakui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata kata apa yang diungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.
Terapi berfungsi sebagai penunjang dalam menemukan pribadi kliennya dengan jalan membantu kliennya itu dalam menemukan kesanggupan-kesangupan untuk mencegah masalah-masalah.


Metode terapi person-centered
Rogers mengemukakan 6 syarat dalam proses terapi yang harus dipenuhi oleh terapis. Rogers menyatakan bahwa pasien akan mengadakan respon jika:
1.     Terapis menghargai tanggung  jawab pasien terhadap tingkah lakunya sendiri.
2.    Terapis mengakui bahwa pasien dalam dirinya sendiri memiliki dorongan yang kuat untuk menggerakkan dirinya ke arah kematangan (kedewasaan) serta independensi, dan terapis menggunakan kekuatan ini dan bukan usaha-usahanya sendiri.
3.    Menciptakan suasana yang hangat dan memberikan kebebasan yang penuh dimana pasien dapat mengungkapkan apa saja yang diinginkannya .
4.    Membatasi tingkah laku tetapi bukan sikap.
5.    Terapis membatasi kegiatannya untuk menunjukan pemahaman dan penerimaannya terhadap emosi-emosi yang sedang diungkapkan pasien yang mungkin dilakukannya  dengan memantulkan kembali dan menjelaskan prasaan-perasaan pasien.
6.    Terapis tidak bpleh bertanya menyelidiki, menyalahkan, memberikan penaksiran, menasihatkan,mengajarkan,membujuk,dan meyakinkan kembali.
Contoh masalah yang bisa di gunakan oleh terapi ini :
Ada individu yang mungkin mempersepsikan dirinya sebagi orang yang ramah, menarik dan suka bergaul, tetapi ketika bersama orang lain ia merasa terabaikan kemudian orang tersebut menjadi tegang, bingung, dan cemas. Lalu ia datang ke terapis, menceritakan semua yang dirasakannya, terapis hanya mendengarkan dan mengarahkan lalu ia sendiri yang menemukan jalan keluarnya.

·         Kelebihan :
1.      pendekatan ini menekankan bahwa konseli dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan proses konseling.
2.    Konseli diberi kebebasan untuk merubah dirinya sendiri.
3.    Pentingnya hubungan antar pribadi dalam proses konseling.
4.    Pentingnya konsep diri.
5.    Konselor berperan untuk mengarahkan dan menunjukkan sikap penuh pemahaman dan penerimaan

·         Kelemahan :
1.     Terkadang konseli seolah-olah merasa tidak diarahkan dan merasa tidak adanya tujuan yang jelas dari proses konseling, apalagi jika tidak adanya pengarahan dan saran dari konselor.
2.    Pendekatan ini dianggap terlalu terikat pada lingkungan kebudayaan Amerika Serikat, yang sangat menghargai kemandirian seseorang dan pengembangan potensi dan kehidupan masyarakat.
3.    Clien centered counselling yang beraliran ortodoks akan sulit diterapkan terhadap siswa dan mahasiswi dan jarang di laksanakan dalam institusi pendidikan indonesia.


Sumber
Semiun, yustinus. 2006. Kesehatan mental 3. Yogyakarta: kanisius
<

Minggu, 24 Maret 2013

Terapi humanistik eksistensial

adalah...

Terapi-terapi psikodinamik cenderung memusatkan perhatian pada proses-proses tak sadar, seperti konflik-konflik internal yang terletak di luar kesadaran. Sebaliknya pada terapi humanistik-eksistensial memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar. Terapi humanistik-eksistensial juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien pada masa sekarang “ di sini dan kini” dan bukan pada masa lampau. Tetapi ada juga kesamaan antara terapi humanistik-eksistensial dengan terapi psikodinamik yaitu keduanya menekankan bahwa peristiwa dan pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi tingkah laku dan perasaan individu dan juga berusaha memperluas pemahaman diri dan kesadaran diri pasien.
Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force).

Meskipun tokoh-tokoh psikologi humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme. Eksistensialisme adalah hal yang mengada-dalam dunia (being-in-the-world), dan menyadari penuh akan keberadaannya. Eksistensialisme menolak paham yang menempatkan manusia semata-mata sebagai hasil bawaan ataupun lingkungan. Sebaliknya, para filsuf eksistensialis percaya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya, dalam hal ini “pilihan” menjadi evaluasi tertinggi dari tindakan yang akan diambil oleh seseorang.

 Pendekatan humanistik – eksistensial berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pemahaman atas manusia. Pendekatan humanistik eksistensial berusaha mengembalikan pribadi kepada fokus sentral, yakni memberikan gambaran tentang manusia pada tarafnya yang tertinggi. Pendekatan ini Berfokus pada sifat dari kondisi manusia yang mencangkup kesanggupan untuk menyadari diri, bebas memilih untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan dan tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian makna yang unik di dalam dunia yang tak bermakna, berada sendiri dan berada dalam hubungan dengan orang lain keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan mengaktualkan diri.

Konsep Utama Pendekatan Humanistik Eksistensial
1.      Kesadaran diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri,suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Kesadaran diri membedakan manusia dengan mahluk-mahluk lain. Pada hakikatnya semakin tinggi kesadaran seseorang, semakin ia hidup sebagai pribadi. Meningkatkan kesadaran berarti meningkatkan kesanggupan seseorang untuk mengalami hidup secara penuh sebagai manusia.Peningkatan kesadaran diri yang mencakup kesadaran atas alternatif-alternatif, motivasi-motivasi, faktor-faktor yang membentuk pribadi, dan atas tujuan-tujuan pribadi, adalah tujuan segenap konseling. Kesadaran diri banyak terdapat pada akar kesanggupan manusia, maka putusan untuk meningkatkan kesadaran diri adalah fundamental bagi pertumbuhan manusia.

2.      Kebebasan tanggung jawab, kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tangung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar bagi manusia. Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia yang mana merupakan sesuatu yang patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk pertumbuhan kepribadian.
3.      Penciptaan makna
Manusia itu unik, dalam arti bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Manusia pada dasarnya selalu dalam pencarian makna dan identitas diri. Manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk yang rasional.

Teknik Terapi
Dalam terapi humanistik-eksistensial tidak memiliki teknik teknik yang ditentukan secara jelas. Terapi ini dapat mengambil prosedur prosedur dari beberapa teori lainnya seperti teori gestalt dan analisis transaksional. Tugas terapis adalah menyadarkan klien bahwa ia masih ada di dunia ini dan hidupnya dapat bermakna apabila ia sendiri dapat memaknainya.
  
Selanjutnya kelebihan dari terapi Humanistik-Eksistensial antara lain sebagai berikut :

1.     Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri
2.    Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri
3.    Memanusiakan manusia.
And then ada juga nih kekurangan dari terapi ini ,yaitu sebagai berikut :
1.     Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal
2.    Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas
3.    Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri);
4.    Memakan waktu lama.

Sumber
1.       Semius, yustinus.2006. kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius
2.       Corey, G. (1995). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Semarang : PT IKIP Semarang Press

Sabtu, 16 Maret 2013

Terapi Psikoanalisa ( Freud )

Kata psikoanalisa dikenalkan pertama kali oleh Sigmund Freud. Freud menyatakan tentang kesadaran datang dari arah yang berbeda. Ia membandingkan jiwa dengan gunung es di mana bagian lebih kecil yang muncul di permukaan air menggambarkan daerah kesadaran, sedangkan massa yang jauh lebih besar di bawah permukaan air mengaambarkan daerah ketidaksadaran. Artinya di dalam daerah ketidaksadaran yang sangat luas ini ditemukan dorongan-dorongan, nafsu-nafsu, ide-ide, dan perasaan-perasaan yang ditekan.

Struktur kepribadian menurut Freud tersusun dari 3 sistem, yaitu id, ego, dan superego.
Id adalah sistem kepribadian yang asli. Id berisikan segala sesuatu yang secara psikologis diwariskan dan sudah ada sejak lahir, termasuk insting-insting. Ciri kerja Id disebut dengan “prinsip kesenangan”, ( pleasure principle). Id memiliki 2 proses, yaitu tindakan refleks dan proses primer.
Ego adalah sesuatu yang muncul karena kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan objektif. Ego disebut juga prinsip kenyataan dan eksekutif kepribadian.
Superego adalah perwujudan internal dari nilai-nilai, norma, moral yang mencerminkan yang ideal dan bukan ideal.
Freud juga mengembangkan suatu bentuk terapi psikoanalisis. Ia menggunakan psikoanalisis untuk membantu klien memperoleh pemahaman mengenai konflik-konflik tak sadar dan memecahkannya.
Freud mengemukakan tujuan psikoanalisis adalah memperkuat ego, membuatnya lebih independen dari superego, memperlebar medan persepsinya, memperluas organisasinya sehingga ia dapat memiliki bagian-bagian yang segar dari id.
Metode yang digunakn dalam terapi psikoanalisis/psikoanalisa
1. Hipnotis
Awal kemunculan hipnotis diperkirakan sekitar tahun 1700-an, ketika itu, seorang dokter Wina bernama Franz Anton Mesmer memperlihatkan suatu teknik animal magnetism, tapi kemudian berubah menjadi hipnotisme karena penekanan dari teknik tersebut dialihkan untuk menimbulkan suatu keadaan kesadaran yang berubah melalui sugesti verbal. Pada abad ke-19, Jean-Martin Charcot, seorang dokter Prancis yang hidup sekitar tahun 1825-1893 itu melihat hipnotis sebagai cara untuk membantu orang-orang supaya menjadi santai. Pada tahun yang tidak diketahui, di Paris, Charcot melakukan eksperimen dengan menggunakan hipnotis untuk menangani hysteria, yaitu suatu kondisi di mana seseorang mengalami kelumpuhan atau mati rasa yang tidak dapat dijelaskan oleh pelbagai macam penyebab fisik.
2. Asosiasi Bebas
Free Association, buku karangan Bollas (2002) yang kemudian dialihbahasakan  ke dalam bahasa Indonesia oleh Winarno (2003) menjadi ‘Asosiasi Bebas’ merupakan acuan utama dalam menjabarkan hal ihwal asosiasi bebasnya Freud. Dalam buku setebal seratus halaman tersebut, asosiasi bebas secara sederhana didefinisikan sebagai bicara bebas, yaitu sesuatu yang tidak lebih dari berbicara tentang apa yang terlintas dalam pikiran, beralih dari satu topik menuju topik lain dalam suatu urutan yang bergerak bebas serta tidak mengikuti agenda tertentu.
3. Analisis Mimpi
Mimpi, dipercaya Freud sebagai “jalan yang sangat baik menuju ketaksadaran”. Hal tersebut didasari kepercayaan Freud bahwa mimpi itu perwujudan dari materi atau isi yang tidak disadari, yang memasuki kesadaran lewat yang tersamar. Dalam hal ini, mimpi mengandung muatan manifes atau manifest content dan content latent atau  muatan laten. Yang disebut pertama merupakan materi mimpi yang dialami dan dilaporkan. Sedangkan yang disebut kemudian, ialah materi bawah sadar yang disimbolisasikan atau diwakili oleh mimpi.
4. Transferensi
Dalam psikoanalitik Freud, transferensi berarti proses pemindahan emosi-emosi yang terpendam atau ditekan sejak awal masa kanak-kanak oleh pasien kepada terapis. Transferensi dinilai sebagai alat yang sangat berharga bagi terapis untuk menyelidiki ketaksadaran pasien karena alat ini mendorong pasien untuk menghidupkan kembali pelbagai pengalaman emosional dari tahun-tahun awal kehidupannya.
5. Penafsiran
Penafsiran itu sendiri adalah penjelasan dari psikoanalis tentang makna dari asosiasi-asosiasi, berbagai mimpi, dan transferensi dari pasien. Sederhananya, yaitu setiap pernyataan dari terapis yang menafsirkan masalah pasien dalam suatu cara yang baru. Penafsiran oleh analis harus memperhatikan waktu. Dia harus dapat memilah atau memprediksi kapan waktu yang baik dan tepat untuk membicarakan penafsirannya kepada pasien.
Contoh masalah yang bisa menggunakan terapi psikoanlitis misalnya pada seseorang yang mengalami gangguan phobia.
Ada seorang laki-laki yang mengalami gangguan phobia terhadap pisau berarti mungkin ia telah menekan impuls-impuls pelampiasan kemarahan untuk membunuh ayahnya. Jadi klien belajar menyortir perasaannya serta menemukan cara yang lebih konstruktif dan dapat diterima oleh masyarakat untuk memuaskan dorongan-dorongan id, kemudian ego mulai bebas untuk memusatkan perhatian pada hal yang lebih komstruktif.
Beberapa keterbatasan dari terapi psikoanalitis adalah sebagai berikut,
  • -          Tidak semua ingatan lama dapat atau harus dibawa ke dalam kesadaran
  • -   Perawatan psikoanalitik hanya efektif untuk bermacam-macam neurosis transferensi seperti phobia, histeria, dan obsesi tetapi tidak demikian halnya dengan psikosis atau penyakit konstitusional
  • -     Walaupun tidak hanya berlaku untuk psikoanalisis, pasien yang sudah sembuh mungkin kemudian mengembangkan neurosis lain. 

Keefektifan dalam terapi ini bila perawatan psikonalitis berhasil maka pasien tidak lagi menderita simptom-simptom yang melumpuhkan. Ia menggunakan energi psikis untuk menjalankan fungsi-fungsi ego, dan ia memiliki ego yang luas di mana berisi pengalaman-pengalaman yang sebelumnya direpresikan, ia tidak mengalami perubahan kepribadian yang penting. Dan ia benar-benar menjadi apa yang diinginkannya dalam kondisi yang menyenangkan.

Sumber
Semiun ,Yustinus. 2006. Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius
Hall, calvin dan Gardner Lindzey. 1993. Psikologi kepribadian 1, teori-teori psikodinamik ( klinis ). Yogyakarta : Kanisius

Sabtu, 01 Desember 2012

Multikulturalisme


Inti dan substansi dari multikultural adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa mempedulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, atau pun agama.



Definisi Multikulturalisme

Multikulturalisme berasal dari dua kata, multi (banyak/beragam) dan cultural (budaya atau kebudayaan), yang secara etimologi berarti keberagaman budaya. Budaya yang mesti dipahami, adalah bukan budaya dalam arti sempit, melainkan mesti dipahami sebagai semua dialektika manusia terhadap kehidupannya. Dialektika ini akan melahirkan banyak wajah, seperti sejarah, pemikiran, budaya verbal, bahasa dan lain-lain.
Multikulturalisme juga merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.
Menurut Parsudi Suparlan (2002) akar kata dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Dalam konteks pembangunan bangsa, istilah multikultural ini telah membentuk suatu ideologi yang disebut multikulturalisme. Konsep multikulturalisme tidaklah dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara sukubangsa atau kebudayaan sukubangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan.
Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).

B.  Sejarah Multikulturalisme

Multikulturalisme bertentangan dengan monokulturalisme dan asimilasi yang telah menjadi norma dalam paradigmanegara bangsa (nation-state) sejak awal abad ke-19. Monokulturalisme menghendaki adanya kesatuan budaya secaranormatif (istilah 'monokultural' juga dapat digunakan untuk menggambarkan homogenitas yang belum terwujud(pre-existing homogeneity).
Multikulturalisme mulai dijadikan kebijakan resmi yang dimulai di Afrika pada tahun 1999. Namun beberapa tahun belakangan, sejumlah negara Eropa, terutama Inggris dan Perancis, mulai mengubah kebijakan mereka ke arah kebijakan multikulturalisme juga.
 Jenis Multikulturalisme Parekh (1997:183-185) membedakan lima macam multikulturalisme
1.     Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
2.    Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas.
3.    Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima.
4.    Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom, tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.
5.    Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.
Multikultural dapat terjadi di Indonesia karena:
1.    Letak geografis indonesia
2.    perkawinan campur
3.    iklim

Sumber :

Akulturasi Psikologis

Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul disaat suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Contoh akulturasi adalah saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa. Akulturasi menurut para ahli: 
 1. Harsoyo Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai hasil jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus; yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya. 

2. Koentjaraningrat Akulturasi adalah proses sosial yang terjadi apabila kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada kebudayaan asing yang berbeda, sehingga unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah di dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri.

 3. Lauer Akulturasi dapat digambarkan sebagai pola penyatuan antara dua kebudayaan, penyatuan antara dua kebudayaan, penyatuan disini tidak berarti bahwa kesamaannya lebih banyak dari pada perbedaannya, namun berarti kedua kebudayaan yang saling berinteraksi menjadi semakin serupa dibanding sebelum terjadinya kontak antar keduanya.(Lauer,1989:402-407). 

 Psikologis 

 Psikologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani Psychology yang merupakan gabungan dan kata psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Secara harafiah psikologi diartikan sebagai ilmu jiwa. Istilah psyche atau jiwa masih sulit didefinisikan karena jiwa itu merupakan objek yang bersifat abstrak, sulit dilihat wujudnya, meskipun tidak dapat dimungkiri keberadaannya. Dalam beberapa dasawarsa ini istilah jiwa sudah jarang dipakai dan diganti dengan istilah psikis. 

Pengertian Psikologi Menurut Beberapa Ahli 
1. Psikologi menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13 (1990), Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat dilihat secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung.
 2. Psikologi menurut Dakir (1993), psikologi membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya. 
 3. Pengertian Psikologi menurut Muhibbin Syah (2001), psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk , berjalan dan lain sebagainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya. Akulturasi Psikologis Jadi, dapat disimpulkan bahwa alkulturasi psikologis yaitu suatu proses sosial yang timbul dimana suatu kelompok manusia dengan perilaku tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu perilaku asing. Perilaku asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam perilakunya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur periaku kelompok sendiri. Singkatnya terdapat perpaduan antara perilaku sendiri dengan perilaku asing, tanpa menghilangkan unsur perilaku kelompok sendiri.

 Berikut artikel tentang akulturasi budaya ngerap dan Jawa

 JAKARTA, suaramerdeka.com -Seperti apa pertunjukan "NewYorkarto: Orang Jawa Ngerap di New York", mengalirkan suguhannya? Dalam konser 
yang tiket pertunjukannya habis terjual itu, -konser yang didukung Djarum Apresiasi Budaya pada 27-28 April kemarin di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki-, ternyata berhasil menarik hati penontonnya. Meski pada saat bersamaan sebuah konser boyband dari Korea, bernama Super Junior, juga digelar di Jakarta. Buktinya, seperti dikatakan Juki Kill the DJ, salah satu penggagas Jogja Hiphop Foundation (JHF) dalam pernyataan resminya yang diterima Suara Merdeka, animo publik untuk menikmati pertunjukan "NewYorkarto: Orang Jawa Ngerap di New York" tetap tinggi. "Kami terkejut dan bangga karena tiket konser Newyorkarto sold out. Apalagi ini merupakan konser tunggal perdana JHF dengan garapan yang berbeda dari biasanya kami konser," katanya. Hal itu, menurutnya, menumbangkan tanggapan yang mengatakan apresiasi publik terhadap karya seni sangat rendah. "Tugas seni dan seninan adalah memberi ruang apresiasi alternatif kepada publik, semoga hal ini cukup menginspirasi," imbuh dia. Konser JHF "NewYorkarto" adalah konser hip hop yang pertama di Indonesia yang memadukan musik hip hop dengan orkestra musik gamelan dan string orkestra. Bahkan, pada konteks pertunjukan musik dunia, memadukan gamelan dan orkestra ke dalam musik hip hop, juga diklaim baru pertama kali dilakukan. Perpaduan ketiganya itulah yang menjadi kekuatan musikal dari konser itu. Ditambah elemen artistik pertunjukan lain seperti multimedia, wayang dan fragmen monolog, koreografi tari, yang membuat konser NewYorkarto menjadi sebuah formulasi pentas hip hop yang dikliam penuh kebaruan. Paling tidak simaklah pendapat Djaduk Ferianto, music director konser Newyorkarto. "Melihat animo masyarakat yang cukup besar, saya semakin semangat untuk menggarap konser ini menjadi suguhan yang sangat menarik, tidak mengecewakan, dan sayang untuk dilewatkan," katanya. Atas alasah itulah, Renitasari, Program Director Djarum Apresiasi Budaya Djarum Foundation mengatakan, "Sebuah kebanggaan bagi kami, acara karya anak bangsa memiliki perhatian dan mampu diminati oleh masyarakat Indonesia." Batik Kudus Yang menarik, dari pertunjukan Newyorkarto adalah kostum dari JHF dan beberapa aksesoris yang digunakan oleh para pemusik dan penari yang menggunakan Batik Kudus. Kehadiran Batik Kudus tersebut akan menambah nuansa Jawa dalam konser unik itu, semakin menarik ketika dilaraskan dengan musik hiphop. Alur pertunjukan itu menggambarkan perjalanan JHF sebagai satu kelompok musik hip hop dalam membangun mimpi dan idealisme bermusiknya, suka dukanya, juga pertumbuhan dan pencapaian musikalnya, akar tradisi yang membentuk dan memberinya semangat bermusik sampai pergaulannya dengan musik-musik (hip hop) dunia. Secara penceritaan "NewYorkarto" pada bagian awalnya bernarasi tentang semangat dan konteks bermusik anak-anak JHF. Yaitu sebuah akar tradisi dan budaya yang membentuk musik dan kehidupan mereka. Koreografi tarian yang mengacu pada Tari Angguk atau Kubrosiswo mempertegas latar tradisi ini. Pada bagian ini, kemunculan bentuk “Wayang Beber” akan menjadi bagian dari narasi pertunjukan. Wayang Beber, sebagai bentuk pertunjukan wayang yang nyaris punah dan dilupakan, diberi sentuhan yang baru dan segar, dengan permainan multimedia dan penampilan dalang Ki Catur Kuncoro. Pada bagian kedua digambarkan latar sosial yang menjadi latar kehidupan anak-anak JHF. Bagaimana latar sosial dan kehidupan di Yogyakarta, sebagai kota di mana mereka hidup dan tinggal, sejak kanak-kanak hingga mereka besar, menjadi sumber inspirasi yang tak pernah habis dan ikut membentuk semangat komunitas mereka. Melalui lagu-lagu seperti “Cintamu Sepahit Topi Miring”, “Gangsta Gapit”, dan lain-lain, suasana latar sosial itu dimunculkan. Kemudian, pada bagian ketiga, adalah latar politik ke-Indonesia-an, sebagai bagian dari perjalanan bermusik JHF. Proses akulturasi sebagai bangsa, sebuah proses menjadi Indonesia, adalah sebuah proses yang terus berlangsung secara dialektis dalam musik JHF, bahkan juga tampak pada tema-tema (lirik) lagu yang mereka tulis, seperti “Jula-juli Jaman Edan” dan beberapa lagu lain yang bermuatan kritik sosial yang menggambarkan carut-marut berbangsa dan bernegara. Wayang Situasi sosial itu muncul dan divisualkan dalam multimedia dan permainan wayang kulit. Disini, wayang kulit dipakai sebagai elemen artistik yang klasik sekaligus kontemporer. Figur-figur Punakawan akan berbaur dengan bentuk atau figur wayang yang telah distilisasi, diberi sentuhan perupaan yang lebih kontemporer: semacam penggambaran proses menjadi Indonesia yang lebih kontemporer tanpa kehilangan akar tradisi yang membentuknya. Latar sosial dan politik, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari inspirasi bermusik JHF, muncul dalam bagian ini. Dibagian inilah akan muncul suasana: ketika banyak peristiwa sosial, kerusuhan sosial dan kegentingan politik, sampai pada suasana sublimasi yang penuh renungan. Yang ditampilkan secara artistik dalam permainan wayang, multimedia dan musik hip hop dengan sentuhan string orkestra. Yang berpuncak pada lagu “Lingsir Wengi”. Lagu yang liriknya diambil dari Serat Centhini, yang mengungkapkan tentang kesejatian rindu pada keheningan Ilahiah. Pada bagian keempat, dimunculkan suasana modern: inilah tahapan di mana menjadi modern adalah keniscayaan. Dalam bermusik dan juga kehidupan. Indonesia yang modern, dengan manusia-manusia modern yang hidup di dalamnya, dengan seluruh ekspresi budaya dan musik yang dihasilkannya. Di bagian ini akan muncul Iwa K dan Saykoji, sebagai representasi dari artis Indonesia modern, yang telah memilih gaya musik mereka yang ikut membentuk kebudayaan Indonesia modern hari ini. Pada bagian kelima, dari latar modern itulah JHF memasuki lingkungan pergaulan internasional. Terutama bagian ketika mereka manggung di New York. Potongan-potongan pemanggungan mereka di New York menjadi latar dari bagian ini. Hingga kemudian sampai pada lagu Jogja Istimewa. Seperti perjalanan sprititual kembali ke kota asal di mana mereka lahir dan tumbuh. Inilah perjalanan ulang-alik secara musikal dan artistik dari Yogyakarta ke New York. Itulah NewYorkarto dalam konser itu. Secara keseluruhan, "NewYorkarto: Orang Jawa Ngerap di New York" menjadi semacam konser restrospektif perjalanan karier dan musikal JHF sejak mulai manggung di panggung-panggung kecil di kampung-kampung Jogja, hingga akhirnya mampu manggung di jantung musik hip hop dunia: New York. Itulah sebuah kisah tentang bagaimana upaya keras dan konsistensi meraih mimpi sembari terus meyakini idealisme bermusik yang diyakini. Sebagai Show Director, Agus Noor untuk kali kesekian bersama Djaduk Ferianto sebagai Music Director bersama Artistic Director (Clink Sugiharto), dan Puppet Master (Ki Catur “Benyek” Kuncoro) serta sejumlah pendukung lainnya seperti Jogja Hip Hop Foundation, Kua Etnika, Soimah Pancawati, Butet Kartaredjasa, Saykoji, dan Iwa K telah menunjukkan betapa rap dengan medium bahasa Jawa sekali pun tetap lebih dari mampu untuk menyampaikan pesannya. Sebagai catatan JHF adalah kelompok hip hop Indonesia pertama yang diundang untuk menggelar konser eksklusif di New York, Amerika Serikat pada 2011, lalu. Berbagai undangan kolaborasi kemudian mengikuti keberhasilan konser tunggal mereka di kota kelahiran hip hop itu. Antara lain datang dari Will.I.Am (Black Eyed Peas, AS), Akala (Inggris), dan Matisyahu (The Bronx, AS).

 Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologis http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi/ http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2012/05/01/5988/Melaraskan-Hip-Hop-Wayang-dan-Gamelan

Sabtu, 03 November 2012

Akulturasi dan relasi internakultural


Apa sih yang dimaksud dengan Akulturasi ?


Akulturasi ( acculturation atau culture contact ) adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.Secara singkat, akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan atau lebih sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli.
Contohnya, perpaduan kebudayaan antara Hindu-Budha dengan kebudayaan Indonesia, dimana perpaduan antara dua kebudayaan itu tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut. Oleh karena itu, kebudayaan Hindu-Budha yang masuk ke Indonesia tidak diterima begitu saja. Hal ini disebabkan:
·         Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi, sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia.
·         Kecakapan istimewa. Bangsa Indonesia memiliki apa yang disebut dengan istilah local genius, yaitu kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Contoh akulturasi budaya adalah meliputi :
·         Seni Bangunan
Dasar bangunan candi itu merupakan hasil pembangunan bangsa Indonesia dari zaman Megalitikum, yaitu bangunan punden berundak-undak. Punden berundak-undak ini mendapat pengaruh Hindu-Budha, sehingga menjadi wujud sebuah candi, seperti Candi Borobudur.
·         Seni rupa/Seni lukis
Unsur seni rupa dan seni lukis India telah masuk ke Indonesia.hal ini terbukti dengan ditemukannya patung Budha berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai. Juga patung Budha berlanggam Amarawati ditemukan di Sikendeng (Sulawesi Selatan). Pada Candi Borobudur tampak adanya seni rupa India, dengan ditemukannya relief-relief ceritera Sang Budha Gautama. Relief pada Candi Borobudur pada umumnya lebih menunjukan suasana alam Indonesia, terlihat dengan adanya lukisan rumah panggung dan hiasan burung merpati. Di samping itu, juga terdapat hiasan perahu bercadik. Lukisan-lukisan tersebut merupakan lukisan asli Indonesia, karena tidak  pernah ditemukan pada candi-candi yang terdapat di India. Juga relief pada Candi Prambanan yang memuat cerita Ramayana.
·         Seni sastra
Prasasti-prasasti awal menunjukkan pengaruh Hindu-Budha di Indonesia, seperti yang ditemukan di Kalimantan Timur, Sriwijaya, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Prasasti itu ditulis dalam bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa.
·         Kalender
Diadopsinya sistem kalender atau penanggalan India di Indonesia merupakan wujud dari akulturasi, yaitu terlihat dengan adanya penggunaan tahun Saka di Indonesia. Di samping itu, juga ditemukan Candra Sangkala atau konogram dalam usaha memperingati peristiwa dengan tahun atau kalender Saka. Candra Sangkala adala angka huruf berupa susunan kalimat atau gambar kata. Contoh tahun Candra Sangkala adalah “Sirna Ilang Kertaning Bumi” sama dengan 1400 (tahun saka) dan sama dengan 1478 Masehi.
·         Kepercayaan dan Filsafat
Masuk dan berkembangnya pengaruh Hindu-Budha tidak meninggalkan kepercayaan asli bangsa Indonesia, terutama terlihat dari segi pemujaan terhadap roh nenek moyang dan pemujaan terhadap dewa-dewa alam.
·         Pemerintahan
Setelah masuknya pengaruh Hindu-Budha, tata pemerintahan disesuaikan dengan sistem kepala pemerintahan yang berkembang di India. Seorang kepala pemerintahan bukan lagi seorang kepala suku, melainkan seorang raja, yang memerintah wilayah kerajaannya secara turun temurun.
·         Desakan Budaya
 Desakan suatu budaya pada budaya lain disebut dominasi. Contohnya masyarakat Betawi,  Aborigin dan Irian.
Selain itu masih ada lagi ,seperti berikut :

1.Kereta Singo Barong (Cirebon)
 Kereta Singa Barong, yang dibuat pada tahun 1549, merupakan refleksidari persahabatan Cirebon dengan bangsa-bangsa lain. Wajah kereta inimerupakan perwujudan tiga binatang yang digabung menjadi satu, gajahdengan belalainya, bermahkotakan naga dan bertubuh hewan burak. Belalai gajah merupakan persahabatan dengan India yang beragama Hindu,kepala naga melambangkan persahabatan dengan Cina yang beragama Buddha, dan badan burak lengkap dengan sayapnya, melambangkanpersahabatan dengan Mesir yang beragama Islam.Kereta ini dibuat oleh seorang arsitek kereta Panembahan Losari danpemahatnya Ki Notoguna dariKaliwulu. Pahatan pada kereta itumemang detail dan rumit. Mencirikanbudaya khas tiga negara sahabat itu,pahatan wadasan dan megamendung mencirikan khas Cirebon, warna-warna ukiran yang merah-hijaumencitrakan khas Cina. Dalam keretaitu, tiga budaya (Buddha, Hindu, danIslam) digambarkan menjadi satudalam trisula di belalai gajah.

2. Keraton Kasepuhan Cirebon
Bangunan arsitektur dan interior Keraton Kasepuhan menggambarkan berbagai macam pengaruh, mulai dari gaya Eropa, Cina, Arab, maupun budaya lokal yang sudah ada sebelumnya, yaitu Hindu dan Jawa. Semua elemen atau unsur budaya di atas melebur pada bangunan Keraton Kasepuhan tersebut.Pengaruh Eropa tampak pada tiang-tiang bergaya Yunani. Arsitektur gaya Eropa lainnya berupa lengkungan ambang pintu berbentuk setengah lingkaran yang terdapat pada bangunan Lawang Sanga (pintu sembilan).Pengaruh gaya Eropa lainnya adalah pilaster pada dinding-dindingbangunan, yang membuat dindingnya lebih menarik tidak datar. Gaya bangunan Eropa juga terlihat jelas pada bentuk pintu dan jendela pada bangunan bangsal Pringgondani, berukuran lebar dan tinggi serta penggunaan jalusi sebagai ventilasi udara.Bangsal Prabayasa berfungsi sebagai tempat menerima tamu-tamu agung. Bangunan tersebut ditopang oleh tiang saka darikayu. Tiang saka tersebut diberi hiasan motif tumpal yang berasal dari Jawa. Pengaruh arsitektur Hindu-Jawa yang jelas menonjol adalah bangunan Siti Hinggil yang terletak di bagian paling depan kompleks keraton. Seluruh bangunannya terbuat dari konstruksi batu bata seperti lazimnya bangunan candi Hindu. Kesan bangunan gaya Hindu terlihat kuat terutama padapintu masuk menuju kompleks tersebut, yaitu berupa gapura berukuran sama atau simetris antara bagian sisi kiri dan kanan seolah dibelah.Pada dinding kiri dan kanan bangsal Agung diberi hiasan tempelanporselen dari Belandaberukuran kecil 110 x 10cm berwarna biru ( blauwedelft ) dan berwarna merah kecoklatan. Pada bagian tengahnya diberi tempelan piring porselen Cina berwarna biru. Lukisan pada piring tersebut melukiskan seni lukis Cina dengan teknik perspektif yang bertingkat.Secara keseluruhan, warna keraton tersebut didominasi warna hijau yang identik dengan simbol Islami. Warna emas yang digunakan pada beberapa ornamen melambangkan kemewahan dan keagungan dan warna merah melambangkan kehidupan ataupun surgawi. Bangunan Keraton Kasepuhan menyiratkan perpaduan antara aspek fungsional dan simbolismaupun budaya lokal dan luar. Mencerminkan kemajemukan gaya maupun kekayaan budaya bangsa Indonesia.

3.Barongsai Kesenian Barongsai, yang awalnya berasal dari Kebudayaan Tionghoa,kini telah berakulturasi dengan kesenian lokal
Lalu apa yang dimaksud dengan Relasi Internakultural ?
Definisi yang pertama dikemukakan didalam buku “Intercultural Communication: A Reader” dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya (intercultural communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar & Porter, 1994, p. 19). Definisi lain diberikan oleh Liliweri bahwa proses komunikasi antar budaya merupakan interaksi antarpribadi dan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (2003, p. 13). Kemudian Sumandiyo Hadi (2006: 35) juga memaparkan bahwa akulturasi dan inkulturasi merupakan dua hal yang berkaitan satu sama lain. Akulturasi sebagai perubahan budaya ditandai dengan adanya hubungan antara dua kebudayaan, keduanya saling memberi dan menerima atau shoter. Sumandiyo Hadi juga mengatakan bahwa akulturasi adalah the encounter between two cultures (pertemuan antara dua kebudayaan).
Interkultural adalah komunikasi  yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan  yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Stewart L. Tubbs, mengatakan bahwa interkultural adalah komunikasi  antara orang-orang yang berbeda budaya  (baik dalam arti ras , etnik , atau perbedaan-perbedaan sosio ekonomi).
Hamid Mowlana juga menyebutkan bahwa interkultural sebagai Human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain.
Sedangkan menurut Fred E. Jandt mengartikan interkultural sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.
Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa juga menambahkan bahwa interkultural adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok. Selanjutnya komunikasi antarbudaya itu dilakukan: Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan.
Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama.
Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita.
Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan berbagai cara.
Fungsi-Fungsi Komunikasi Antarbudaya
1.  Fungsi Pribadi
     Menyatakan Identitas Sosial
     Menyatakan Integrasi Sosial
     Menambah Pengetahuan
     Melepaskan Diri atau Jalan Keluar
2.  Fungsi Sosial
     Pengawasan
     Menjembatani
     Sosialisasi Nilai
     Menghibur
Prinsip-Prinsip Komunikasi Antarbudaya
1.       Relativitas Bahasa
2.       Bahasa Sebagai Cermin Budaya
3.       Mengurangi Ketidak-pastian
4.       Kesadaran Diri dan Perbedaan Antarbudaya
5.       Interaksi Awal dan Perbedaan Antarbudaya
6.       Memaksimalkan Hasil Interaksi
Tiga konsekuensi yang dibahas oleh Sunnafrank (1989) mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya. Sebagai contoh, orang akan berintraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan akan memberikan hasil positif. Karena komunikasi antarbudaya itu sulit, anda mungkin menghindarinya. Dengan demikian, misalnya anda akan memilih berbicara dengan rekan sekelas yang banyak kemiripannya dengan anda ketimbang orang yang sangat berbeda.
Kedua, bila kita mendapatkan hasil yang positif, kita terus melibatkan diri dan meningkatkan komunikasi kita. Bila kita memperoleh hasil negatif, kita mulai menarik diri dan mengurangi komunikasi.
Ketiga, kita mebuat prediksi tentang mana perilaku kita yang akan menghasilkan hasil positif. Dalam komunikasi, anda mencoba memprediksi hasil dari, misalnya, pilihan topik, posisisi yang anda ambil, perilaku nonverbal yang anda tunjukkan, dan sebagainya. Anda kemudian melakukan apa yang menurut anda akan memberikan hasil positif dan berusaha tidak melakkan apa yang menurut anda akan memberikan hasil negatif.
 SUMBER :